Yogyakarta, fkppai.id — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), hingga Selasa (14/10), status Gunung Merapi masih berada di Level III atau Siaga.
Dalam periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat 10 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–12 mm dan lama gempa 73,12–169,75 detik, serta 21 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–27 mm dan durasi 14,1–53,79 detik. Data ini menunjukkan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung, sehingga berpotensi memicu awan panas guguran (APG) di dalam area potensi bahaya.
BPPTKG juga melaporkan bahwa selama periode pengamatan, Gunung Merapi tampak jelas dengan asap kawah putih berintensitas sedang hingga tinggi mencapai sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah, suhu udara berkisar 17,5–20°C, kelembaban antara 93–95,6%, serta tekanan udara 872,7–916 mmHg.
Dari pantauan MAGMA Indonesia, teramati empat kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter. Cuaca cerah dan arah angin tenang ke timur mendukung visibilitas yang baik untuk pengamatan aktivitas puncak.
Rekomendasi Resmi BPPTKG dan PVMBG
Berdasarkan analisis terkini, berikut daftar rekomendasi yang perlu diperhatikan masyarakat di sekitar Gunung Merapi:
- Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Sektor tenggara mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.
Lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. - Suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di area potensi bahaya.
- Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di zona potensi bahaya.
- Waspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi.
- Antisipasi gangguan abu vulkanik terhadap kesehatan, air bersih, dan aktivitas harian.
- Jika terjadi perubahan signifikan pada aktivitas Gunung Merapi, tingkat status akan segera ditinjau kembali oleh BPPTKG dan PVMBG.
Tanggapan FKPPAI DI Yogyakarta
Menanggapi kondisi ini, Ketua Forum Komunikasi Pemuda Pecinta Alam Indonesia (FKPPAI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jamal Nuralim, S.T., M.T., yang akrab disapa Mas Jamal, menyampaikan agar kebijakan mitigasi tidak hanya bersifat teknis tetapi juga sosial edukatif.
“Kami berharap upaya mitigasi tidak berhenti pada pemantauan teknis, tetapi juga memperkuat edukasi kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. Pendekatan kolaboratif sangat penting agar masyarakat di lereng Merapi lebih waspada menghadapi potensi erupsi,” ujar Mas Jamal.










