Beranda / HUMANIORA / FKPPAI Menyikapi Fenomena Alam Terkini: Dari Langit hingga Bumi, Dari Edukasi hingga Mitigasi

FKPPAI Menyikapi Fenomena Alam Terkini: Dari Langit hingga Bumi, Dari Edukasi hingga Mitigasi

Jakarta, 8 September 2025 – Indonesia kembali menjadi panggung peristiwa alam besar sepanjang tahun 2025. Dalam rentang waktu delapan bulan terakhir, publik disuguhkan serangkaian fenomena yang mencakup dimensi langit hingga bumi: Gerhana Bulan Total yang menyelimuti nusantara, erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT, aktivitas vulkanik Gunung Marapi di Sumatera Barat, gempa bumi Poso di Sulawesi Tengah, serta banjir besar di Pekalongan dan Jakarta.

Menanggapi kondisi ini, Forum Komunikasi Pemuda Pecinta Alam Indonesia (FKPPAI) menyampaikan pandangan, sikap, sekaligus ajakan kepada publik agar melihat fenomena alam secara proporsional: bukan hanya sebagai peristiwa sesaat, tetapi juga sebagai pelajaran berharga untuk masa depan bangsa.


Fenomena Langit: Gerhana Bulan Total

Pada Minggu malam hingga Senin dini hari, 7–8 September 2025, langit Indonesia diselimuti Gerhana Bulan Total atau yang populer dengan sebutan Blood Moon. Fenomena langka ini berlangsung selama lebih dari lima jam, dengan fase totalitas sekitar satu jam lebih.

FKPPAI menilai peristiwa ini memiliki dua dimensi penting: sains dan spiritualitas.

  • Dari sisi sains, gerhana bulan adalah momentum edukasi astronomi yang bisa mendorong minat generasi muda pada ilmu pengetahuan.
  • Dari sisi spiritual, gerhana menjadi pengingat akan kebesaran Sang Pencipta.

“Gerhana adalah jendela pengetahuan sekaligus cermin kebesaran Tuhan. Kami mengajak masyarakat menyikapinya dengan rasa syukur, refleksi, dan kegiatan positif. Bagi umat Islam, ini juga momentum melaksanakan salat khusuf sebagai wujud penghambaan,” ungkap Arif Darmawan, Sekjen FKPPAI.


Gunung Api: Dinamika Alam yang Harus Diwaspadai

Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik kembali mengingatkan betapa gunung berapi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan bangsa.

Sejak 17 Juni 2025, Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores, Nusa Tenggara Timur, meletus dengan kolom abu yang mencapai belasan kilometer. Dampaknya terasa luas: penerbangan internasional terganggu, ribuan warga dievakuasi, dan aktivitas ekonomi setempat lumpuh sementara. Aktivitas erupsi bahkan berlanjut hingga Agustus dengan beberapa kali letusan susulan.

Sementara itu, Gunung Marapi di Sumatera Barat menunjukkan intensitas letusan berulang sepanjang Juli 2025. Meskipun skala erupsinya lebih kecil dibanding Lewotobi, tetap saja hujan abu berpotensi mengganggu kesehatan, pertanian, dan aktivitas warga.

“Gunung api adalah laboratorium alam. Ia bisa menjadi sumber bencana bila diabaikan, tetapi juga sumber kehidupan bila dikelola bijak. Yang penting adalah disiplin dalam mematuhi radius bahaya, meningkatkan kesiapsiagaan, dan membangun literasi kebencanaan di masyarakat,” jelas Arif.

FKPPAI sendiri menegaskan kesiapan jaringan relawannya untuk membantu pemerintah dalam edukasi masyarakat, distribusi informasi, dan bila diperlukan mendukung evakuasi di lapangan.


Gempa Bumi Poso: Luka yang Mengingatkan

Tanggal 17 Agustus 2025, ketika bangsa merayakan Hari Kemerdekaan, bumi Poso, Sulawesi Tengah, bergetar hebat dengan kekuatan M 5,8. Dua warga meninggal dunia, puluhan terluka, dan sejumlah bangunan roboh, termasuk gereja yang tengah digunakan untuk ibadah.

Bagi FKPPAI, gempa Poso adalah pengingat pahit bahwa Indonesia adalah negara dengan kerentanan seismik tinggi. Edukasi kesiapsiagaan, pembangunan infrastruktur tahan gempa, dan tata ruang berbasis mitigasi harus menjadi prioritas pemerintah daerah dan pusat.


Banjir dan Longsor: Ancaman Hidrologi yang Kian Nyata

Selain gempa dan erupsi, Indonesia tahun ini juga dikejutkan oleh bencana hidrologi berskala besar.

  • 20 Januari 2025, Pekalongan dilanda banjir dan longsor yang merenggut lebih dari 25 jiwa.
  • 2–6 Maret 2025, Jabodetabek lumpuh akibat banjir besar. Lebih dari 90 ribu orang mengungsi, sembilan orang meninggal, dan kerugian material mencapai ratusan juta dolar AS.

Fenomena ini mempertegas bahwa perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan lemahnya tata ruang menjadi faktor penguat skala bencana.

“Banjir bukan semata-mata akibat hujan deras, tetapi juga akibat tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan. Sungai yang menyempit, hutan yang gundul, dan kota yang kedap air memperbesar risiko. Solusinya bukan hanya infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku kolektif dalam menjaga alam,” tegas Arif.


Komitmen dan Ajakan FKPPAI

Menghadapi rangkaian fenomena ini, FKPPAI menegaskan tiga komitmen utama:

  1. Edukasi Publik – meningkatkan literasi kebencanaan, astronomi, dan konservasi melalui seminar, pelatihan, dan kampanye sosial.
  2. Mitigasi & Relawan – memperkuat jejaring relawan pecinta alam di daerah rawan bencana untuk mendukung upaya evakuasi dan bantuan kemanusiaan.
  3. Solidaritas & Empati – menggalang donasi, bantuan logistik, dan dukungan moral untuk korban bencana.

FKPPAI juga menyerukan agar seluruh masyarakat tetap tenang namun waspada, tidak mudah terprovokasi oleh informasi menyesatkan, dan selalu mengacu pada data resmi dari BMKG, PVMBG, dan BNPB.


Penutup

Fenomena alam, baik yang menakjubkan seperti gerhana maupun yang tragis seperti bencana, adalah bagian dari dinamika bumi. FKPPAI meyakini bahwa kita tidak bisa mengendalikan alam, tetapi kita bisa mengendalikan cara kita meresponsnya.

“Menjaga alam berarti menjaga diri kita sendiri. Mari bersatu untuk alam, siaga menghadapi bencana, dan terus menumbuhkan solidaritas kemanusiaan. Dari langit hingga bumi, dari sains hingga iman, mari kita belajar, bertindak, dan saling menguatkan,” tutup Arif Darmawan.


📌 Kontak Media
Forum Komunikasi Pemuda Pecinta Alam Indonesia (FKPPAI)
Email: mediapartnership@fkppai.id
Telp: +62 853 11699 678
Instagram: @fkppai_official

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *